(Arena Bobotoh) Teruntuk Bobotoh Persib

0
318

Hari itu 4 Agustus 2018 tepat pukul 16:00 saya dengan anak saya yang berusia 4 tahun sudah siaga didepan televisi. Karena alasan pekerjaan, saya tak sempat hadir di stadion meski lokasinya terhitung dekat dengan rumah tinggal kami.

Singkat kata, lupakan kemenangan Persib atas Sriwijaya. Justru ada hal menarik diluar jalannya pertandingan yang kami saksikan dan dengarkan. Sesekali spanduk spanduk bertuliskan nada menyindir kepada PSSI dan Komdisnya tersorot televisi, hal yang saya pikir luar biasa mengingat keberanian Bobotoh menyampaikan kritik secara terbuka sudah jarang terjadi di masa ini. Ya walaupun kenyataannya kamera televisi lebih sering menyorot karton bertuliskan hatur nuhun Indosiar yang terlihat norak.

Saat menonton Persib di televisi, atmosfer stadion terlihat luar biasa hebat dan terdengar sangat brisik. Tapi sebenarnya ada beberapa pertanyaan dan sedikit kekhawatiran yang ingin saya bagi untuk kita semua terkait chant atau nyanyian yang terdengar di televisi. Dari seluruh nyanyian yang terdengar, suara paling keras, lantang, dan kompak adalah nyanyian tentang supporter rival adalah anjing, dan tim rival adalah anjing. Serius, itu adalah chant terkompak hingga artikulasi kata per kata terdengar jelas di televisi.

Kita mulai dari kekhawatiran. Saya pribadi khawatir di tengah keadaan Persib yang seolah dijegal menuju tangga juara oleh sanksi sanksi ajaib, nyanyian berbau ‘anjing’ dan ‘dibunuh saja’ akan menjadi bahan selanjutnya untuk mereka yang ingin mengerjai Persib.

Saat Persib butuh dukungan dari segala pihak, justru bukankah lebih baik jika kita tetap menjaga setiap celah yang bisa menimbulkan sanksi ajaib selanjutnya.
Selanjutnya kita masuk ke pertanyaan. Bolehlah kita bertanya pada diri kita sendiri, apa iya nyanyian seperti itu bisa membangkitkan semangat pemain di lapangan? Apa mungkin tim lawan merasa terintimidasi dengan caci maki terhadap tim lain yg bukan lawan Persib saat itu? Apa sebenarnya tujuan kita ke stadion? Mendukung dan berteriak untuk Persib, atau memuaskan ego dan hasrat kebencian? Percayalah, nyanyian seperti itu tak akan pernah membangkitkan semangat juang pemain Persib di lapangan.

Kenyataannya, ada basis supporter yang menjadi besar karena cintanya pada klub. Di luar sana, ada juga basis supporter yang  menjadi besar karena kebenciannya pada supporter rival. Jadi terserah anda, memilih menjadi supporter karena cinta pada klub kebanggaan, atau menjadi supporter untuk memuaskan mental tawuran lewat kebencian dan kekerasan. Yang saya tau, Bobotoh menjadi sangat besar karena cinta dan loyalitasnya pada Persib.

Kalian boleh setuju dengan saya, boleh juga tidak setuju dan tetap memilih melakukan nyanyian ‘anjing’ dan ‘dibunuh saja’, itu pilihan. Satu hal yang pasti, ketika kelak terjadi tragedi dan menimbulkan korban jiwa dari saudara kita yang tak berdosa, kita tak usah dan tak layak mengucapkan ‘Bobotoh Berduka’, ‘usut tuntas’, atau ‘cukup ini yang terakhir’. Kita tak perlu munafik dan sok merasa berduka, kita cukup mengenang bagaimana bahagianya kita bernyanyi ‘anjing’ dan ‘dibunuh saja’ dengan lantang sambil tertawa puas. Tak perlu menuntut untuk diusut, karena kenyataannya kita terlibat langsung dengan segala chant dan nyanyian yang menghasut. Jangan juga bicara ‘semoga ini yang terakhir’, karena ini tak akan pernah mencapai titik akhir bila tidak dimulai dari diri kita untuk mengakhiri segala kebodohan yang terjadi.

Besar harapan saya agar selanjutnya kita sebagai Bobotoh bisa lebih fokus berteriak dan bernyanyi untuk Persib, apalagi Persib sedang butuh kita agar tetap on the track mempertahankan posisi klasemen sampai akhir musim. Akhir kata Hidup Persib!!

Ditulis oleh Gery H Saputra, Bobotoh dengan akun  Twitter & IG @storyofgery

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here