(Arena Bobotoh) Perginya Sang Legenda

0
20

Membaca pergerakan manajemen Persib dalam bursa transfer kali ini cukup mengagetkan sekaligus mengecewakan. Bila pada musim-musim lalu selalu tercium bocoran siapa yang akan direkrut, kali ini Persib terbilang cukup senyap dalam merekrut pemain incarannya. Di tengah hiruk-pikuk penolakan Lopicic yang digadang-gadang sudah habis masanya, Persib memutuskan untuk tidak memperpanjang beberapa pemain senior mereka, diantaranya adalah Airlangga “Rooney” Sucipto dan tentu sang predator sirip hiu, Atep. Di antara dua pemain tersebut, bobotoh cukup kaget dengan tidak diperpanjangnya sang kapten yang telah mengabdi cukup lama di Persib ini. Bahkan, banyak dari bobotoh yang ingin melihat sang kapten untuk bisa pensiun di Persib seperti apa yang Ebol lakukan.

Reaksi berbeda ditunjukkan pada Ronggo sang calon bintang yang entah kapan bersinarnya. Keputusan manajemen banyak diamini oleh elemen bobotoh karena minimnya kontribusi dan seringnya rukuk pada saat pertandingan berlangsung yang tidak diakhiri dengan gerakan sujud sebagai tanda syukur usai mencetak gol. Kembali pada Atep, pemain ini sudah dicap dan memang layak menjadi legenda Persib. Datang dari tim rival, Atep membuktikan bahwa hatinya memang sejatinya seorang Maung Biru. Salah satu momen penting Atep adalah ketika mengantarkan Persib juara pada gelaran ISL 2014 dan tentu gol pentingnya saat semifinal melawan Arema dengan tendangan placing ke arah pojok gawang. Atep adalah pemain yang istimewa, dicaci tapi disayangi, dibenci tapi dicari.

Hubungan cinta dan benci terhadap Atep ini sampai-sampai menimbulkan suatu tantangan tersendiri bagi segelintir bobotoh untuk melakukan push up bila sang kapten berhasil mencetak gol. Gol-gol yang dicetak Atep pun acapkali berbau ajaib. Bila ia diberi bola mudah, barang tentu bola menyamping, melambung, atau berhasil diblok penjaga gawang. Sebaliknya, bila bola itu sulit, dengan tingkat keberhasilan hanya beberapa persen saja, bola itu ajaibnya mendatangi Atep untuk diceploskan ke dalam gawang.

Atep sebagai pituin dari Jawa Barat bisa jadi contoh bagi generasi muda Jabar untuk senantiasa menghargai proses dan bekerja keras. Atep membuktikan kontribusi nyatanya dengan mengantarkan Persib menjadi juara meskipun pada musim itu Atep lebih sering masuk sebagai pemain pengganti yang juga sering menjadi penentu kemenangan. Ibarat sebuah lukisan, makin tua makin punya nilai tersendiri. Atep memang tidak selincah dan segesit dulu, hanya satu yang masih melekat dan mungkin akan dirindukan adalah bagaimana cara Atep melambungkan dan meremukkan hati penonton ketika membuang peluang 99% menjadi gol.

Musim depan, bisa menjadi musim yang berbeda bagi kita semua, Tidak akan ada lagi gocekan ala CR7, sedihnya sering gagal, bahkan juga gol-gol mistis ala Atep yang menjadi gol kritis bagi Persib. Sejanak mari kita apresiasi apa yang telah Atep berikan bagi Persib. Pro dan kontra selalu hinggap bagi siapapun, tidak terkecuali baginya. Kini, Atep akan mencari petualangan baru sebagai seorang legenda. Layaknya Rooney yang sudah menorehkan tinta emas bersama MU dan kini mengembara di tempat lain. Di manapun berada, Atep tetaplah Atep, pemain bergaya rambut ala sirip hiu yang dicintai bobotoh. Pileuleuyan Tep, nuhun Sabandungeun!

Ditulis oleh seorang bobotoh rumahan biasa. Baru 2 kali nyetadion dan belum tahu kapan bisa nyetadion lagi. Akun twitter @ceprimaulana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here